Sabtu, 23 Maret 2013

Mengenal Rumah Tradisional Jepang

Arsitektur Rumah Tradisional jepang

Arsitektur rumah tradisional Jepang terutama dilihat sebagai tempat tinggal yang alami, sejak abad ke-16 elemen-elemen arsitektur rumah tradisional Jepang meliputi sistem struktural, yang terdiri dari tatami dan bahan bangunan lainnya. 
Konsep dasar dalam arsitektur Jepang adalah Ma|間 (ditulis dengan huruf karakter Cina yang juga diucapkan ken atau aida). Tidak ada arti yang pasti di dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Di dalam seni arsitektur istilah yang paling sesuai dengan ma adalah jarak diantara dua tiang yang saling berhubungan. Dasar dari arsitektur bangunan rumah Jepang adalah pada kekohohan tiang kayunya.
Interior rumah tradisional Jepang mempunyai kekhasan karakteristik terhadap lingkungan tempat tinggal yang alami. Atap rumah yang menonjol berfungsi untuk melindungi struktur bangunan dalam menghadapi iklim dan kondisi geografis di negara Jepang.   
Arsitektur rumah tradisional Jepang pada dasarnya memakai bahan dasar kayu. Dalam manghadapi keadaan iklim seperti ini rumah tradisional Jepang sangat memerlukan struktur kayu yang kokoh dan kuat untuk menjaga interiornya.

Elemen-Elemen Rumah Tradisional Jepang

A. Fusuma (ふすま) 

Pada zaman dahulu, rumah tradisional Jepang lebih terbuka dengan tidak dibangunnya ruangan-ruangan atau tembok-tembok pembatas dan hanya dibatasi dengan dinding pembatas yang disebut dengan fusuma. Fusuma adalah pintu geser yang dibungkus dengan kertas tebal tembus pandang atau kain di atas bingkai petak-petak kayu yang digunakan untuk memisah-misahkan ruangan-ruangan (sebagai penyekat atau pembatas antar ruangan dalam rumah).  

Tinggi pintu ruangan pada rumah tradisioanl Jepang ini biasanya berkisar 6 kaki. Biasanya kertas-kertas atau kain-kain tersebut digambari dengan gambar pemandangan alam pada satu atau kedua sisinya. Fusuma biasanya dapat dibongkar atau di pindahkan untuk memperbesar ruangan atau membatasi ruangan. Dengan arti lain fusuma adalah sebuah dinding yang dapat dipindah-pindahkan dan dapat digeser.

B. Shoji (障子)


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIhkuYddZxZu_rTCVBEFudJHwC-i4G0OtpUrvfBJ8lKxP1mqsyTBtMSao-ebtzIs_sYbebOtkkI7KTXHHpSJZMX90aG2jocVYQ-Ya9rBoH0rSMAZCNXXSXhc82GfNCBT9SWAcSMDJWUh0/s640/shoji_screen_1.jpgShoji adalah pintu geser yang di bungkus dengan kertas tipis yang di rekatkan pada petak-petak kayu dan bingkai pintu. Kayu tersebut biasanya tidak diamplas. Shoji berasal dari Cina. Tinggi shoji pada rumah tradisional Jepang biasanya berkisar enam kaki, normalnya dibagi menjadi empat bingkai (frame). Yang paling utama dari fungsi shoji ini adalah sebagai sekat atau untuk memisahkan ruangan dalam dengan ruangan luar atau teras.
Di dalam rumah modern, shoji digunakan sebagai pemisah ruangan dimana sandal rumah dipakai ataupun tidak dipakai. Shoji kadang-kadang dibelah menjadi dua, bagian atas dapat berfungsi sebagai jendela dan bagian bawah dapat berfungsi sebagai pintu.




C. Tatami (畳)

Tatami berasal dari kata kerja tatamu(畳む),yang berarti menumpuk.dengan kata lain tatami adalah pelapis lantai rumah yang terbuat dari ikatan jerami yang dijadikan satu dengan papan kayu, dan biasanya di dalam (interior) rumah tradisional Jepang, tatami ini di jadikan sebagai lantai dan juga digunakan sebagai pembatas antara ruangan dalam dengan ruangan luar. 


Ukuran tatami biasanya sekitar 90x180 cm dan tebalnya sekitar 1 3/4 – 2 ½ inchi.Di daerah Kyoto berukuran 6,3 kaki X 3,1 kaki sedangkan di Tokyo tatami berukuran 5,8 kaki X 2,9 kaki Untuk rumah tradisioanal Jepang ukuran ruangan di dalam satu ruangan kurang lebih sekitar enam tikar tatami, atau lebih dikenal dengan "rokojuma" (六じゅうま) (six-mat-room/ ruangan dengan enam tatami).


Pada saat tatami pertama kali dipasang, tatami ini berwarna hijau, tetapi ketika lama-kelamaan akibat terkena sinar cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan, tatami ini berubah warna menjadi kuning. Cara membersihkan tatami sangatlah mudah hanya dilap dengan kain yang diberi sedikit air atau dengan penyedot debu (vacuum cleaner)
 
Tatami sudah digunakan sejak Zaman Heian (794-1185. Memasuki zaman Muromachi (1333-1568) lantai rumah pada rumah tradisional Jepang sudah dilapisi semua dengan tatami. Tatami meliputi lantai, futon (kasur lipat yang disimpan didalam oshiire/lemari didalam dinding). Sejak saat itu tanpa sesuatu yang besar atau furnitur yang spesifik, maka fungsi ruangan menjadi berubah total.


D. Ranma (らんま)

Ranma atau jendela kecil di atas pintu yang memiliki ukiran yang berada di atas dinding dan digunakan di antara shoji dan plafon untuk memberikan sirkulasi udara dan cahaya. Ranma dibuat dalam berbagai macam variasi ukuran. Di daerah barat ranma digunakan sebagai ventilasi dan dekorasi dinding. Ranma dapat ditempatkan sebagai shoji, dalam dinding atau dengan cahaya dibelakang dekorasi tersebut. Cahaya dapat ditempatkan di belakang ranma untuk menerangi sebuah desain bangunan. Ranma dapat dikatakan sebagai kusen. 

E. Tokonoma (床の間)

Tokonoma adalah suatu ruangan yang berukuran lebih kecil dari ruangan yang ada di dalam rumah. Letaknya berada di dalam kamar dengan posisinya lebih tinggi beberapa inchi dari lantai tatami (gaya ruangan masyarakat Jepang).


Alasan mengapa tokonoma dibuat satu tingkat lebih tinggi dari lantai sebuah ruangan (tatami) adalah karena pada zaman dahulu sebelum pengaruh agama Budha masuk ke Jepang, bangsa Jepang telah mengalami sistim kepercayaan dinamisme yaitu percaya bahwa alam adalah segalanya dan dapat dikatakan sebagai dewa bagi mereka. Mereka juga percaya bahwa kesucian orang Jepang berasal dari alam dan kemudian menciptakan manusia sebagai bagian dari alam. Maka mereka sering melakukan persembahan kepada dewa-dewa mereka di dalam sebuah ruangan yang dilengkapi dengan segala yang berbau alam seperti: ikebana dan dupa. Lantai pada ruangan persembahan ini sengaja dibuat satu tingkat lebih dari ruangan tatami dengan alasan bahwa lantai atas pada ruangan pemujaan ini diilustrasikan sebaga dewa, sedangkan lantai bawah (tatami) diilustrasikan sebagai manusia. Pada akhirnya setelah pengaruh agama Budha mulai masuk ke Jepang maka ruangan persembahan ini pun telah berubah menjadi sebuah bangunan yang dinamakan Butsudan (altar bagi agama Budha). Seiring dengan berjalannya waktu maka Butsudan ini telah berubah menjadi sebuah bangunan yang dinamakan tokonoma. 


Ditulis Oleh Rafi Sidqi
Maros, Maret 2013

Referensi: 
Ueda Atsusi. 1990. The History of Japanese architecture is the struggle with the pillar.
Seike,1977:81-82
Japanese room interior design and material :2004

en.wikipedia.org/wiki/Fusuma
en.wikipedia.org/wiki/Shōji
en.wikipedia.org/wiki/Tokonoma
japanese.about.com/library/blhiraculture20.htm
en.wikipedia.org/wiki/Tatami 

2 komentar:

ary mengatakan...

mlm mas rafi..
kira kira kalau misal saya mau membuat sebuah ruangan dengan sekat menggunakan shoji harganya bisa berapa ya? anggap lebarnya 3 m, tingginya 2,4 m. tks.

Muhammad Rafi Sidqi mengatakan...

Halo Ary!! Untuk shoji setau saya harganya ratusan ribu. Saya tidak tahu pastinya. tetapi tetap dalam rentan tersebut.

Posting Komentar